KONTAK KAMI | SITE MAPS

Mengenal Kima, Kerang Raksasa Eksotis Yang Semakin Langka

Artikel - 23 February 2017 09:54 AM Telah Dibaca 2k kali

0 0 0 13
Loading...

Saat membicarakan tentang wisata bahari khususnya wisata selam, maka hal yang muncul pertama kali adalah indahnya terumbu karang dan ikan karang yang bervariasi. Hampir semua operator wisata selam selalu menawarkan untuk melihat keindahan terumbu karang dan ikan karangnya. Tetapi lebih dari itu, ada biota laut yang tidak kalah indah namun terlewatkan, baik karena sulit untuk ditemukan (karena kelangkaannya) dan tidak semua perairan terdapat biota laut ini. Biota yang dimaksudkan adalah kima atau kerang raksasa.

Kini hewan ini sudah semakin langka keberadaannya, sebagai contoh di Taman Nasional Laut Takabonarate Kabupaten Selayar, dulu dikenal sebagai kawasan dengan populasi kima terbanyak di Indonesia, tetapi populasi kima semakin berkurang karena aktifitas warga yang berlebihan dalam pemanfaatannya. Sebagian besar pemanfaatannya adalah untuk konsumsi, memang ukuran kima yang besar dan sifatnya yang diam di suatu tempat memudahkan masyarakat untuk mengambilnya. Selain dikonsumsi dagingnya secara langsung, apalagi ada keyakinan sebagian masyarakat bahwa daging kima bisa memperbanyak air susu ibu bagi ibu yang baru melahirkan, juga daging kima menjadi sajian wajib bagi pesta atau syukuran masyarkat di Kabupaten Selayar. Selain daging kima, cangkang kima juga menjadi hiasan yang eksotis seperti asbak, hiasan akuarium dan aksesoris lainnya yang harganya sangat mahal.

Kima yang dalam beberapa bahasa lokal disebutkan sebagai  kerang raksasa, tiram karang, bia, suwat, wawat, dan fika-fika merupakan keluarga dari Tridacnidae yang terdiri dari dua genus (marga), yaitu Tridacna dan Hippopus dengan 12 spesies terdata. Kima  termasuk biota yang dilindungi sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 Tentang : Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Kima merupakan bagian dari sumber daya alam yang tidak ternilai harganya sehingga kelestariannya perlu dijaga melalui upaya pengawetan jenis. Klasifikasi kima dalam ilmu taksonomi adalah sebagai berikut:

  • Morfologi

Filum         :     Mollusca         

Kelas         :     Bivalvia

Bangsa      :     Veneroidea

Suku          :     Cardiacea

Sub Suku  :     Tridacnidae

Marga        :     Tridacna dan Hippopus

Spesies      :     Tridacna gigas; Tridacna derasa; Tridacna maxima; Tridacna noase; Tridacna noae; Tridacna squamosa; Tridacna tevoroa;                                             Tridacna rosewateri; Tridacna costata; Hippopus hippopus; Hippopus porcellanus

Kima merupakan hewan dari kelas Bivalvia yang artinya biota ini bertubuh lunak dan dilindungi sepasang cangkang bertangkup seperti kerang lainnya. Kima bernafas dengan menggunakan insang, alat gerak berupa kaki perut yang dimodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis melekatkan diri pada substrat berbatu dengan organ yang disebut byssus.

           

Di antara semua jenis kerang, kima adalah salah satu kerang dengan bentuk dan ciri yang paling unik. Ukuran cangkangnya sangat besar dan berat, sehingga disebut kerang raksasa. Mantelnya memiliki sistem sirkulasi khusus yang menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae, makhluk hidup bersel tunggal yang berfotosistesis.

Zooxanthellae dan kima memiliki hubungan simbiosis mutualisme dimana zooxanthellae mendapatkan bahan mentah dan tempat bernaung dari kima sedangkan kima mendapatkan keuntungan tambahan nutrisi yang disalurkan melalui sistem saringan makanan. Meskipun lingkungan perairan di sekitar kima sangat miskin unsur hara, kerang raksasa ini masih dapat tumbuh dengan baik.

                                                              

  • Tingkah laku

Kima dewasa bersifat menetap di dasar perairan, sebagian besar sumber makanan didapat dari zooxanthellae dan sisanya dari filter feeding. Di siang hari kima membuka cangkangnya agar zooxanthellae mendapatkan sinar matahari, di saat mendapatkan gangguan, kima akan merespon dengan menutup cangkangnya secara perlahan. Beberapa jenis kima juga akan menyemprotkan air untuk mengusir ikan-ikan predator saat menarik mantelnya ke dalam cangkang.

  • Reproduksi

Pada waktu masih muda kima semuanya berkelamin jantan, tetapi setelah dewasa biota ini segera berubah menjadi hermaprodit. Setiap satu individu dapat menghasilkan sperma dan sel telur, namun proses pematangan keduanya tidak terjadi secara bersamaan, sehingga pembuahan dari satu individu tidak terjadi. Sifat pemijahan ini secara alami menguntungkan karena dapat menghindari terjadinya pembuahan sendiri yang dapat menghasilkan keturunan yang inferior.

  • Sebaran kima di Indonesia

Saat ini, dikenal ada 7 jenis kima di perairan Indonesia dan bertambah dengan ditemukannya 1 spesies baru di perairan Toli-toli pada tahun 2011. Bagi masyarakat Pulau Labengki, jenis kima baru ini disebut sebagai kimaboe (kima air) karena jika daging kima ini diambil, maka akan keluar banyak air dan hanya menyisakan sedikit daging. Awalnya, jenis kima ini dicurigai sebagai T. tevoroa karena memiliki bentuk dan lekukan cangkang yang sama. Namun, setelah dilakukan penelitian oleh  Prof. John Lucas dan Dr. Richard D Braley (penemu T. tevoroa di Kepulauan Fiji dan Tonga di Samudera Pasifik), dari Queensland University-Australia, dipastikan bahwa kima tersebut bukan T. tevoroa. Spesifikasi kima ini ditetapkan sebagai kima spesies baru pada tahun 2013 dan menjadi spesies kima terbesar kedua di dunia dengan panjang cangkang 55,5 cm lebih besar dari T. tevoroa dan T. derasa. Spesies kima yang baru diteliti ini dinamakan Tridacna kimaboe (www.kabarkami.com). Kemungkinan masih adanya jenis kima baru lainnya di perairan Indonesia, khususnya di Toli toli masih terbuka, dengan ditemukannya jenis kima yang mirip dengan T. rosewateri. Menurut Dr. Ambariyanto, ahli kima dari Universitas Diponegoro hal ini perlu dibuktikan dengan uji DNA seperti standar baku penentuan spesies baru (www.indonesiamedia.com). 

Tabel jenis kima terdapat di perairan Indonesia

No.

Nama Ilmiah

Nama umum

Nama lokal

1.

Tridacna crocea (Lamrck, 1819)

Boring Clam, Crocus Clam, Saffron-coloured Clam

Kima lubang, kunai

2.

Tridacna maxima (Roding, 1798)

Small Giant Clam

Kima kecil

3.

Tridacna squamosa (Linnaeus, 1758)

Fluted Clam, Fluted Giant Clam, Scaly Clam

Kima sisik, suling

4.

Tridacna derasa (Roding, 1798)

Southern Giant Clam

Kima selatan

5.

Tridacna gigas(Linnaeus, 1758)

Giant Clam (English), Bénitier Géant (French)

Kima raksasa

6.

Hippopus hippopus (Linnaeus, 1758)

Bear Paw Clam,Horse's Hoof Clam, Strawberry Clam

Kima tapak beruang, kima pasir

7.

Hippopus porcellanus (Rosewater, 1982)

China Clam

Kima cina, kima porselen

8

Tridacna kimaboe (2013)

 

Kimaboe

Di Indonesia, kima dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan, dengan pemanfaataanya hanya diperbolehkan dari hasil budidaya turunan kedua. Namun mengingat pertumbuhan kima yang sangat lambat, maka pemanfaatan hasil budidaya turunan pertama dapat dilakukan setelah mendapat ijin dari menteri berdasar rekomendasi dari scientific authority. Kenyataannya di beberapa daerah, kima dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Secara ekonomis kima mempunyai nilai yang sangat tinggi, khususnya di pasaran luar negeri di mana biota ini menjadi organisme akuarium yang sangat digemari. Spesies Tridacna maxima yang berukuran 2 inchi dan mempunyai warna bagus dan menarik dijual seharga US$ 40 per ekor dalam kondisi hidup sebagai biota hias di akuarium. Kima yang dijual ini adalah hasil budidaya yang bersertifikat, bukan berasal dari alam.

Pemerintah dalam Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Pemanfaatan menyatakan bahwa kima merupakan salah satu biota yang dilindungi. Kima di Indonesia diarahkan ke pemanfaatan yang non ekstraktif seperti ekowisata. Beberapa lokasi ekowisata berbasis ikma telah berkembang seperti di Toli-toli, Sulawesi Tenggara, dan kima garden di Bali.

Penulis : Muji Wasis (Staff BPSPL Denpasar)

Editor : Yoga IG

Sumber:   

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL). 2015.  Pedoman Monitoring Populasi Kima (Tridacna sp)

www.kabarkami.com. Surga Kerang raksasa di Taman Laut Toli-toli. 10 Mei     2013. www.kabarkami.com/kandidat-spesies-kerang-raksasa-baru-di-taman-laut-toli-toli.html

www.indonesiamedia.com. Kima Super Raksasa Ditemukan di Sultra. 10 Juli 2011. http://www.indonesiamedia.com/kima-super-raksasa-ditemukan-di-sultra/

TERKAIT
POPULER
Top